Sabtu, 15 Juni 2013

Spanduk Anas Ketua Umum Demokrat Masih Dipasang di TTU

Sebuah spanduk bergambar Anas Urbaningrum masih menjabat sebagai Ketua Umum Partai Demokrat masih dipasang sampai hari ini, Jumat (14/6/2013), di kantor Sekretariat Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrat, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pada spanduk itu, foto Anas bersanding dengan foto Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Entah disengaja atau lupa menurunkannya, spanduk itu sudah agak pudar itu tetap dipasang di kantor yang beralamat di Jalan Kartini, Kelurahan Kefamenanu Tengah, Kecamatan Kota Kefamenanu, TTU.

Seperti diketahui, Anas menyatakan mundur dari Partai Demokrat setelah dia ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi proyek Hambalang.

"Standar etik pribadi saya mengatakan, kalau saya punya status hukum sebagai tersangka, maka saya akan berhenti sebagai Ketua Umum Partai Demokrat," kata Anas saat jumpa pers di Kantor DPP Demokrat di Jakarta, pada 23 Februari 2013 siang. "Saya mundur sebagai Ketua Umum Partai Demokrat," ujar Anas dalam kesempatan itu.

Hingga berita ini diturunkan, Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten TTU Johny Salem belum bisa dihubungi. Pesan singkat yang dikirimkan Kompas.com tidak dijawab. Johny Salem juga tidak mengangkat ketika dihubungi melalui telepon selulernya.

Sumber: kompas.com

Warga NTT Keluhkan Sinyal Telekomunikasi Timor Leste

Warga Indonesia yang bermukim di sepanjang wilayah perbatasan sering kali lebih akrab dengan negara tetangga dibandingkan Tanah Air sendiri. Hal ini yang dialami oleh warga di perbatasan Indonesia dengan Timor Leste, khususnya warga Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur.

Tak jarang, banyak warga di sekitar wilayah perbatasan itu justru mendapatkan jaringan seluler dari operator Timor Leste dibandingkan operator lokal. Patrisius Siki, warga Desa Tes, Kecamatan Bikomi Utara, kepada Kompas.com, Jumat (14/6/2013) malam, mengatakan, kuatnya sinyal milik Timor Leste sering mengganggu sinyal lokal.

"Di desa kami, antara sinyal Timor Leste dan Telkomsel, sering masuk bersamaan, namun lebih kuat yang berasal dari Timor Leste. Sinyal Timor Leste kalau masuk biasanya penuh, sementara sinyal Telkomsel hanya muncul satu bar, itu pun kadang muncul dan hilang kembali sehingga kita sangat kewalahan pada saat mau nenelepon," kata Patrisius.

Menurut Patrisius, pada tahun 2012 lalu, warga masih bisa berkomunikasi via telepon seluler dengan baik walaupun kekuatan sinyal lokal lemah. Namun, masuk 2013, rupanya pihak Timor Leste pun membangun jaringan pemancar telepon seluler yang berada persis di perbatasan sehingga langsung mendominasi sinyal.

"Dulu kami masih bisa telepon dengan baik, tetapi sekarang pas kita mau telepon, di handphone hanya muncul sinyal Timor Leste," keluh Patrisius.

Karena itu, Patrisius berharap pihak penyedia layanan lokal bisa membangun lagi jaringan seluler di perbatasan dengan kekuatan sinyal yang lebih besar agar bisa mengimbangi milik Timor Leste.

Sumber: kompas.com

Warga Demo Tolak Pembangunan Waduk di Kupang

Ratusan warga Kelurahan Kolhua menolak rencana Pemerintah Kota Kupang untuk membangun waduk di wilayah itu. Padahal pembangunan waduk itu ditujukan untuk memenuhi kebutuhan air minum warga kota.
John Bino (42) warga Kolhua yang ikut dalam demo di halaman Gedung DPRD NTT di Kupang, Jumat (14/6/2013) mengatakan, warga Kolhua menolak rencana pembangunan waduk Kolhua karena kehadiran waduk tidak bermanfaat bagi masyarakat lokal.

"Kami terus digusur dalam 20 tahun terakhir. Tadinya, kami sebagai warga asli bermukim di pusat Kupang tetapi kemudian digusur ke tepi kota sampai di Kolhua, itu pun kami mau digusur lagi," kata Bino.

Mereka membawa spanduk bertulislkan, tolak waduk Kolhua karena akan sangat menyengsarakan rakyat. Waduk itu bukan solusi yang tepat mengadakan air bersih bagi warga Kupang. Air bersih yang ada hanya dimonopoli pejabat, pengusaha, dan pemilik tanah ulayat.

Sejumlah sumber mata air di kota Kupang, diperjualbelikan oleh pemilik air, sementara Pemkot bersikap diam. "Kalau Pemkot menyebutkan kekayaan sumber daya air dikuasai negara, apakah Kolhua itu punya sumber mata air seperti di sejumlah titik di dalam kota Kupang. Sama sekali tidak. Di Kolhua, Pemkot hanya mau bangun waduk untuk tampung air hujan," kata Bino.

Para demonstran terdiri dari petani sayur dan peternak ayam, anak anak, dan ibu rumah tangga. Mereka telah memperjuangkan nasib sampai di Komnas HAM dan DPR RI, namun belum ada kejelasan soal pembatalan rencana itu.

Diberitakan sebelumnya, Pemkot Kupang berencana membangun waduk Kolhua senilai Rp 50 miliar untuk memenuhi kebutuhan air minum bagi 300.000 warga Kota Kupang yang sudah lama kesulitan air bersih. Selama ini mereka membeli air tanggi (5000 liter) dengan harga Rp 50.000 - Rp 70.000 tergantung jarak.

Sumber: kompas.com

Kamis, 13 Juni 2013

Kebaktian Kebangunan Rohani Kupang Bermazmur

Hadirilah Kebaktian Kebangunan Rohani Kupang Bermazmur. 14-15 Juni 2013. Pkl 18.30 WIT-selesai




Hampir Seluruh Wilayah di Kabupaten Belu Dirasuk Virus HIV / AIDS

Bupati Belu , Joachim Lopez dalam materinya bertopik kebijakan penanggulangan di kabupaten Belu menjelaskan total penderita HIV / AIDS di wilayahnya tersebar di beberapa kecamatan yang letaknya berbatasan langsung wilayah negara RDTL seperti kecamatan Atambua Selatan , Atambua Barat , Kakuluk Mesak , Malaka Tengah , Kota Atambua , Tastim , Malaka Barat , dan Raihat. Sejumlah kecamatan ini merupakan penyumbang penderita HIV / AIDS cukup banyak yang jumlahnya berkisar dari 17 sampai dengan 83 orang pasien. 

Hampir semua wilayah kecamatan di Kabupaten ini ada penderita HIV / AIDS kecuali kecamatan Botin Leobele yang sampai dengan maret 2013 ini masih bebas dari HIV / AIDS ungkap Dia.

Penyebab tingginya jumlahnya penderita HIV / AIDS di wilayah itu cukup beraneka ragam daiantaranyan tingginya mobilitas penduduk , tingginya peredaran Narkoba , meningkatkan jumlah pekerja seks dan murah , pengiriman TKI tanpa dibekali informasi HIV / AIDS dan tradisi masyarakat yang beresiko sifon atau suhu. Meski demikian pihaknya tetap berupaya maksimal untuk menekan angka penderita HIV / AIDS di wilayahnya dengan terus melakukan kampanye bahaya HIV / AIDS dan pentingnya penggunaan kondom kepada masyarakat. 

Selain itu pemerintah daerah juga menyediakan tenaga medis yang berkompeten lengkap dengan laboratorium yang memadai guna menangani para pasien HIV / AIDS di wilayah kabupaten itu. Pemerintah daerah juga sudah beberapa tahun menyediakan dana dari APBD untuk membiayai penanganan pasien HIV / AIDS. Tahun 2013 ini pemda alokasikan dana Rp. 300 juta untuk penanganan HIV / AIDS jelas Joachim Lopez.

Menurut Dia, untuk penanganan medis para pasien HIV / AIDS di wilayahnya , pemerintah daerah setempat menyediakan sarana maupun tenaga medis diseluruh balai pengobatan mulai dari RSUD Atambua , RSMK Halilulik , RSPP Betun dan beberapa puskesmas terdekat. Pemerintah juga menyediakan puskesmas rawat jalan , puskesmas rawat inap , puskesmas pembantu , polindes bahkan Poskesdes sebagai tempat pelayanan kesehatan bagi para pasien HIV / AIDS di wilayahnya. 

Sementara data jumlah penderita HIV / AIDS berdasarkan data dibeberkan Sekretaris KPA Provinsi NTT dr. Husein Pancratius hingga maret 2013 lalu mencapai 2351 orang yang tersebar di 21 kabupaten / Kota. Total penderita HIV / AIDS tersebut terdiri dari pengidap HIV sebanyak 985 orang dan pengidap AIDS sebanya 1366 orang. 

Dari data tersebut Kabupaten Belu menempati posisi teratas disusul lima Kabupaten / Kota lainnya yang memiliki penderita HIV / AIDS cukup banyak yaitu , Kota Kupang 374 orang, kabupaten Lembata 130 orang, kabupaten TTS 171 orang, kabupaten sikka 113 orang , kabupaten Flotim 110 orang. Sementara kabupaten yang memiliki jumlah penderita HIV / AIDS paling sedikit adalah Kabupaten Sabu Raijua 1 orang , Manggarai Timur 8 orang, Sumba Tengah 9 orang dan Rote Ndao 9 orang.

Sumber : Timor Express Selasa, 11 Juni 2013

Warga Kota Waingapu Dihebohkan Video PNS Main Poker Dengan Pakaian Dinas

Warga Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, NTT, khususnya kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) kini dihebohkan dengan tersebarnya video sejumlah oknun PNS bermain kartu remi (Poker) di dalam ruang kantor lengkap dengan pakaian dinas.

Video yang terunggah via jejaring sosial Facebook oleh account bernama Waingapu Ekspress (WE) itu, terdata diunggah sejak tanggal (5/6) lalu. Sebagaimana termuat dalam account WE itu, di dalam video yang berdurasi 1 (satu) menit 28 (duapuluh delapan) detik itu nampak dengan jelas menunjukan sejumlah oknum PNS berseragam bermain kartu remi.

Dalam video tersebut, tergambar jelas oknum PNS tersebut bermain poker di Kantor Kelurahan Kawangu, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur. 

Menurut account  WE, mengutip pernyataan warga yang merekam dan memberikan video itu, lurah dan stafnya sering berperilaku demikian dan bahkan memasang taruhan dalam bermain kartu remi. Adapun oleh account WE, video tersebut juga telah dibagikan ke grup Facebook lainnya yang memiliki anggota ribuan. 

Terkait dengan tersebarnya video itu, Obed Djangi, selaku Lurah Kawangu, yang didampingi Kepala seksi (Kasie) Pembangunan, Aprianto Tadu, yang bertindak selaku juru bicara, ketika ditemui diruang kerjanya, membenarkan video itu terjadi dan direkam di Kantor Lurah Kawangu. 

”Memang benar itu terjadi disini, ada staf  disini yang bermain kartu remi. Tapi itu terjadi bukan saat jam dinas. Itu hanya terjadi menjelang jam waktu berakhirnya jam kerja,” jelas Aprianto.

Masih terkait dengan terus tersebarnya video itu, Aprianto yang menemui Sindo, Selasa (11/06) malam tadi menegaskan akan menempuh jalur hukum dengan melaporkan pengambil video dan pengunggah video itu. 

”Besok kami akan laporkan kasus ini ke polisi. Karena kami melihat telah terjadi fitnah atau pencemaran nama baik. Staf di kantor kami tidak berjudi namun disebutkan kami berjudi, jadi akan kami laprokan pengambil video juga yang mengunggahnya,” tegasnya.

Sumber: sindonews.com

Jembatan di Malaka NTT Putus, Ribuan Warga Terisolir

Jembatan yang menghubungkan lima Desa di Daerah Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT) putus akibat di terjang banjir bandang yang terjadi akibat luapan Sungai Benanain yang terjadi satu pekan lalu.

Akibat putusnya jembatan penghubung itu, saat ini ribuan warga desa tersebut terisolir. Mereka, mulai mengalami kesulitan keluar dari lokasi itu lantaran tidak bisa lagi dilalui oleh kendaraan roda dua dan roda empat.

Padahal, jembatan penguhubung satu-satunya itu baru dibangun tahun lalu setelah sebelumnya juga sempat rusak dihantam terjangan banjir.

"Untuk bisa melintas kami terpaksa membangun jembatan darurat untuk bisa dilalui dengan berjalan kaki," ungkap seorang warga, Patrisisus Seran, di Malaka, NTT, Rabu, (12/6/2013).

Sebelumnya dikabarakan delapan Desa tergenang banjir kiriman dari Kabupaten Timor tengah Selatan (TTS) dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Delapan desa itu antara lain Desa Lasaen, Fafoe, Umatoos, Rabasa Hain, Sikun, Oan Mane, motaulun, Umalor.

Sumber: sindonews.com